Thursday, March 15, 2012

Karmakoma

Aloha kawan-kawan.

Setelah mengarungi badai dan ombak selama berbulan-bulan, akhirnya gua bisa ngaso sebentar dan mewartakan sejumput unek-unek yang mengganjal di hati. Adapun unek-unek itu berupa sebersit pertanyaan dan segenggam rasa heran terhadap segelintir orang yang merasa 'beruntung'  karena dirinya dan jalan hidupnya  lebih baik dari orang-orang yang 'kurang beruntung', dan dengan rasa beruntung itu mereka pun merasa apa yang telah mereka perbuat sepanjang hidupnya  lebih baik dari orang-orang yang kurang beruntung tersebut.

Terminologi tokoh sialan tersebut dalam bahasa asing: self-righteous bitch.

Dari begitu banyak self-righteous bitches yang pernah gua temui, sebagian besar dari mereka percaya sama karma. Ide dasar karma memang bagus, apa yang kamu perbuat akan kamu petik hasilnya di kemudian hari. Tapi ketika karma dijadikan sebagai jawaban dari segala ketidak-beruntungan yang terjadi pada seseorang, I object that idea. Ketika seseorang mengalami musibah, kira-kira pantes nggak sih ada yang (secara tidak langsung) bilang "Mampus lo kena karma!". Coba bayangkan apabila itu yang terjadi pada lo. Gimana perasaan lo?

Ada juga orang yang reus dengan koar-koar bersumpah akan menghindari perbuatan-perbuatan yang--menurut moral mereka--salah, dan menghakimi orang lain yang melakukan perbuatan tersebut dengan mengatakan "Ih gua sih takut karma". Males nggak sih lagi seru-seru ngomongin orang (yang kebetulan emang pantes diomongin, kalau perlu dibahas secara ilmiah) terus tiba-tiba ada yang nyeletuk takut karma. Like helloh, takut karma tapi ikut ngetawain apa nggak sama aja ya?

Menggelikan ketika karma dijadikan sebagai dasar untuk menghakimi seseorang. Terlebih ketika self-righteous bitch itu melihat orang yang tidak mereka sukai mengalami kesusahan. Apakah mentertawakan dan menghakimi bahwa seseorang mendapatkan karma juga bukan perbuatan yang baik dan menyenangkan? Lantas bagaimana dengan korban-korban pelanggaran HAM, kekerasan seksual, anak-anak terlantar, orang-orang yang meninggal karena kelaparan, apakah itu semua  menimpa mereka karena karma? Do you even know what they have done to deserve all of those?

Kemudian gua pun berpikir, in some case, mungkin sebagian orang yang menggunakan karma untuk menghakimi orang lain memang pada dasarnya sudah menanam rasa tidak suka, benci dan dendam kepada orang yang bersangkutan. Hingga akhirnya, kata "karma" dan "eat that shit" menjadi serupa. Ketika elo disakiti atau dikecewakan orang lain, pastilah elo punya hasrat untuk membalas. Tapi pada kenyataannya, terkadang elo tidak mampu untuk membalas sehingga akhirnya elo menyerahkan pembalasan ini pada Tuhan dan karma. Dan ketika orang yang lo anggap berdosa itu mendapatkan pembalasan berupa kesulitan atau musibah, elo pun meyakini bahwa Tuhan dan karma telah menjalani tugasnya. Lo kate Tuhan sama karma algojo bayaran? Please deh cong.

Mungkin memang tidak sepantasnya manusia menggunakan "karma" sebagai patokan seberapa baiknya diri sendiri dan seberapa buruknya orang lain. Jadikan "karma" sebagai dasar diri lo untuk terus berbuat baik. Persetan deh dengan amal baik dan perbuatan buruk orang lain. Ketika kerjaan lo cuma menghakimi keburukan orang lain, elo juga pantas untuk mendapatkan bad karma.

2 comments:

shinta said...

akhirnya ada updatean baru :D
klo cerita gue sendiri sih, alam bawah sadar gue suka mengutuk org yg 'jahat' ke gue. tapi pas mereka dpt musibah persis dgn angan2 gue, kok jadi serem juga yah? emang gak boleh sembarangan 'berharap' mungkin.

Radiorusak said...

wew... numpang nitip komen yak neng,
blogwaking eeeh ketemu topik karma >_<"

Ntah pernah denger ato ngga kalimat spt ini : "WoY jangan suka mainin cewe looo....ntar klo anak lo dimainin sama cowo n sampe hamil gimana?? Inget Karma WOY!"

buat gw, klopun (nantinya)tu anak gw dimaenin sama cowo lain, ya itu karena keteledoran dia, karena gw yg gak bisa ngasi pendidikan sama si anak cewe gw itu, atau emang si cowo itu aja yang brengsek...

tapi... gak ada urusannya dengan karma...

intinya sih, gw gak percaya sama karma!
(ribet yak? hehhee)