Tuesday, May 03, 2011

Idiot Box

Gua akhirnya kembali menulis di blog ini setelah tak sengaja dirudung kegelisahan akibat beberapa kali menonton sinetron di beberapa stasiun televisi lokal. Adapun kegiatan menonton sinetron tersebut bukanlah suatu kesengajaan, melainkan karena tidak ada pilihan. Sebagai pengangguran, kalau bosan membaca buku dan berselancar di dunia maya, terkadang gua tergoda untuk menyiksa mata memandangi tayangan di layar kaca. Meskipun tersiksa, gua bisa dibilang beruntung karena punya banyak pilihan: tetap menonton televisi atau pergi mencari hiburan yang lain. Tinggal di Jakarta dengan banyaknya variasi hiburan membuat gua (sebetulnya) bisa bebas terlepas dari jeratan acara televisi yang menyesatkan. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak tinggal di kota, tidak memiliki akses internet, berdomisili nun jauh dari pusat kebudayaan maupun pergaulan, dan toko-toko buku yang tak sekedar menawarkan buku-buku agamis dan sejenisnya?

Sinetron dan infotainment menjadi sumber kejijikan gua terhadap televisi. Dari gua bangun pagi, makan siang, menghabiskan waktu siang yang lengang, iseng menikmati sore hari, makan malam, hingga ketika gua tak bisa tidur selepas pukul 12 malam, acara hiburan di televisi tak jauh dari sinetron dan infotainment. Tak lupa diselingi oleh iklan-iklan kuis dan ringtone yang membuat gua acap kali membatin "What the heck?!!". Ketika beralih menonton acara berita pun gua kembali dikecewakan dengan kualitas berita yang ditayangkan, seperti misalnya berita mengenai Briptu Norman yang kelewat repetitif sehingga membuat gua alergi setiap mendengar lagu Chaiya Chaiya. Tapi mungkin reaksi seperti itu hanya gua yang mengalaminya. Bagaimana dengan mereka di luar sana?

As much as I hate the repressive era in the new order, gua harus mengakui bahwa acara-acara televisi di jaman pemerintahan Soeharto lebih berkualitas dibandingkan sekarang. Sinetron-sinetron di masa itu banyak yang diangkat dari novel-novel sastra yang tentu saja tidak sembarang ketik tanpa mengindahkan estetika dialog dan alur cerita. Kualitas akting dari para pemain pun terjaga. Selain sinetron, acara-acara kuis di era 90-an juga cukup informatif dan sangat menghibur. Kuis Piramida, Kata Berkait, Tak Tik Boom, Siapa Dia, hingga Berpacu dalam Melodi menjadi favorit gua di masa itu karena gua dapet informasi-informasi baru yang gua gak dapet di sekolah. Gua pun masih ingat betapa lugas pembawa berita Dunia dalam Berita ketika menyampaikan "sari berita penting". The last but not the least, banyaknya hiburan anak mulai dari acara kartun, klip musik anak, hingga pembahasan pelajaran IPA / IPS yang dikemas dalam semi-drama di Televisi Pendidikan Indonesia yang pada akhirnya pun gagal mendidik sebelum kini berganti nama.

Sekali lagi, gua (dan beberapa pemuda generasi gua) bisa dikatakan beruntung pernah merasakan nikmatnya menonton televisi. Mungkin kenikmatan tersebut masih dapat dirasakan bagi masyarakat luas di luar sana, yang hiburannya tak lain adalah televisi. Namun sungguh miris melihat mereka, yang mungkin tidak mampu mendapatkan informasi dan/atau pendidikan tinggi, harus menelan informasi-informasi yang sarat akan kebodohan yang disuguhkan melalui media televisi. Mungkin gua terkesan merendahkan pekerja televisi, tapi bener deh, dengan 'isi' sinetron dan infotainment yang (menurut gua) tidak menyodorkan informasi penting apa-apa selain teori "orang baik selalu ditindas kemudian ditabrak mobil dan orang jahat selalu melotot dan berbicara sambil membentak" dan/atau "artis A bercerai, minggu depan kepergok pacaran, bulan depan kawin lagi" dan sebagainya. Sinetron seolah menawarkan hipotesis bahwa hidup ini kelewat rumit sehingga harus dihadapi dengan seember airmata dan drama kumbara. Infotainment seolah mengajarkan masyarakat untuk harus terus uptodate, kepo, dan semangat menginvestigasi urusan 'dapur' orang lain. Tayangan berita menyodorkan fakta bahwa negara ini punya terlalu banyak masalah dan problematika nan rumit, yang secara tidak langsung seolah menjustifikasi teori sinetron tadi.

Meskipun dicekoki begitu banyak tayangan nonedukatif dari berbagai stasiun televisi swasta, gua masih bersyukur ada MetroTV yang setidaknya masih menayangkan beberapa tayangan berkualitas (kecuali acara Agung Kapitalis Group dan Mario Teguh Bullshit Ways). Tapi seberapa banyak sih masyarakat di luar sana yang tertarik menonton acara semacam Kick Andy atau Mata Najwa? Akan sulit bagi mereka, yang terbiasa 'terhibur' dengan glamorama ibukota sebagaimana dicerminkan oleh sinetron dan infotainment, untuk menambah wawasan melalui acara-acara tersebut. Gua yakin, gak banyak masyarakat yang bisa 'terhibur' menonton tayangan edukatif karena bertahun-tahun mata dan otak mereka dimanjakan oleh ketololan yang menciptakan kecanduan dan mungkin sebagian besar dari mereka juga tidak memiliki (banyak) pilihan hiburan selain melanjutkan episode demi episode yang alurnya semakin lama semakin tidak masuk akal. Ini yang bikin gua gelisah. Sampai kapan masyarakat Indonesia dimanjakan oleh tayangan yang tidak mendidik, yang secara langsung maupun tidak, membiasakan mereka untuk meliburkan otak mereka untuk berpikir kritis dan menolak segala hal yang nonsense. Sempat gua berpikir apa mungkin degradasi kualitas tayangan televisi merupakan politik pemerintah, penguasa, dan/atau pemilik modal untuk mencegah kecerdasan bangsa.

Sudah larut, saatnya tidur dan mematikan televisi sebelum otak saya mati suri.


1 comment:

nadyagita said...

Hi! I'm your new follower :)
bener bgt, tayangan tv lokal emang bisa diitung pake jari yang bagus. miris juga :( prefer nonton tv kabel aja daripada pusing nonton tayangan2 yg ga bener. harusnya masyarakat dikasih pilihan yg bagus buat jd tontonan..
by the way, I've read all of your posts and I love it :)

cheers!
la femme