Saturday, October 31, 2009

Antagonists in Real Life

How would you feel when someone's giving you a hard time?
Shocked? Fucked up? Panic? Excited? or what?

Gua tipe orang yang selalu kaget dan sulit untuk percaya ketika ada orang yang jahat sama gua dan/atau orang lain. Apa pun bentuk kejahatannya. Bukan karena gua terlalu banyak membaca kisah-kisah fairytales, karena toh di dongeng-dongeng 'kisah cantik' itu tetap muncul tokoh-tokoh antagonis yang bentuk kejahatannya cukup dikatakan kreatif. Sebut saja ibu tiri Putri Salju yang tidak kehabisan akal untuk membunuh Putri Salju, atau tokoh Serigala di dongeng "Little Red Riding Hood" yang dengan teganya melahap seorang nenek-nenek yang sudah renta. Nenek-nenek loh. Dagingnya kan udah alot. Mungkin serigala itu sedang lapar-laparnya, terdesak oleh rasa lapar yang menggila jadi apa pun disikat yang penting kenyang.
Tapi kalau dipikir-pikir, tokoh-tokoh antagonis tersebut berbuat jahat bukan karena dia terlahir jahat atau iseng aja pengen jahatin orang. Mereka berada dalam posisi yang tidak nyaman, terdesak, dan dilengkapi dengan rasa insecure yang menggerogoti psikis mereka sehingga mereka pun terdorong untuk 'mencelakai' orang lain demi perasaan aman dan/atau kebutuhan mereka terpenuhi. Ibu tiri Putri Salju merasa 'terancam' dengan beradaan Putri Salju yang ditakdirkan untuk lebih cantik daripada dirinya. Meskipun sebetulnya wajarlah Putri Salju lebih cantik, bagaimana pun yang lebih muda akan terlihat lebih cantik dan menarik daripada yang tua. Perasaan terancam ini mendorong Ibu tiri Putri Salju untuk membunuh, yang tentu saja dari dulu kita dicecoki ajaran bahwa membunuh itu adalah kejahatan besar, apa pun alasannya. Sama halnya dengan Cruella De Ville di cerita 101 Dalmations. Karena kecintaannya pada mode, terutama fur in fashion, dia pun tergerak untuk menculik anjing-anjing milik sahabatnya sendiri untuk dikuliti demi sebuah coat. Dan karena perbuatan-perbuatan yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma kebaikan inilah nyonya-nyonya ini pun mendapat predikat sebagai antagonis.
Contoh itu ada di dalam dongeng, fakta di kehidupan nyata lebih mengerikan lagi. Belum lama ini gua ditipu oleh seorang klien, pekerjaan saya dan tim diinjak-injak seenak jidat dan mereka tidak mau membayar honor kami semua. Kisah lain, seorang teman mengalami kecelakaan tertabrak bus, dan laptop beserta handphonenya dicuri orang pada saat ia terkapar akibat kecelakaan tersebut. Dan teman gua ini masih koma sampai detik ini. (tolong bantu doa ya, teman-teman)

Fakta-fakta ini kerap membuat jantung gua berdebar-debar, mulut menganga lebar, sekaligus menyulut kemarahan dan kekecewaan yang luar biasa. Gua masih nggak habis pikir, dan terus berpikir nggak habis-habis kenapa manusia bisa berbuat jahat seperti itu. Sekali lagi gua sendiri juga nggak mengerti kenapa gua sebegitu 'kampungan'nya ya setiap kali melihat fakta betapa manusia dapat menyakiti manusia lain tanpa merasa bersalah atau apa pun juga. Padahal dari kecil saya terbiasa membaca berita-berita kejahatan di koran, kisah-kisah tragis Ernest Hemingway, kisah-kisah seru nan mendebarkan Enid Blyton, hingga kisah-kisah penuh drama Oh Mama Oh Papa di majalah Kartini.

Sejak kecil gua sering berjumpa dengan orang-orang jahat, dan terkadang gua masih tidak mengerti motif di balik kejahatan yang mereka lancarkan itu. Orangtua dan orang-orang yang lebih tua di sekitar gua selalu mengingatkan untuk bersabar, istighfar, dan jauhi dendam. Tapi jauh di lubuk hati yang terdalam, bersinkronisasi dengan neuron-neuron di otak gua, terbersit niat untuk sekedar menyadarkan mereka; "heh rasain lo kayak gini nih rasanya dijahatin! emang enak!" tapi toh itu tinggal angan-angan. Gua nggak punya cukup nyali untuk membalas perbuatan tidak menyenangkan itu.

Beberapa bulan yang lalu gua sempat mengenang kembali kisah-kisah getir ketika gua dijahatin beberapa orang-orang yang tak perlu lah gua jabarkan semuanya. Salah satunya adalah copet dan juga pria-pria cabul di pinggir jalan, mereka termasuk orang yang pernah menzolimi gua tentunya. Gua pun berpikir, Sigmund Freud pernah mengatakan bahwa masa lalu seseorang itu penting, gua mengamini ucapan Freud itu. Masa lalu membentuk gua menjadi individu dengan corak karakter yang digoreskan oleh masa lalu. Analoginya, bila individu adalah lukisan, maka masa lalu adalah goresan-goresan di atas kanvas. Warna-warna dari goresan tersebut mengindikasikan kebahagiaan, kegagalan, kesedihan, dan variabel-variabel kehidupan lainnya. Dan tebal tipisnya goresan tersebut mengindikasikan seberapa signifikan pengalaman masa lalu itu bagi pembentukan kepribadian kita hingga saat ini.
Dalam kanvas kehidupan gua, terlihat beberapa tokoh-tokoh antagonis datang dan pergi silih berganti dengan kasus-kasus yang unik. Namun dari semua itu hanya segelintir yang meninggalkan efek yang signifikan hingga sekarang. Salah satunya adalah kesulitan untuk mempercayai orang lain. Ini menjadi fenomena tersendiri bagaimana antagonis yang muncul dan meninggalkan bekas luka di dalam kehidupan kita bisa memahat kepribadian kita. Pertanyaannya, apakah elo rela tokoh-tokoh antagonis itu memahat kepribadian lo?

Di satu sisi, harus kita ingat dan sadari bahwa kehadiran dan keberadaan tokoh-tokoh antagonis itu justru (seharusnya) menjadikan kita sebagai individu yang kuat dan lebih memaknai dan menghargai hidup dengan segala aspeknya. Terdengar klise memang, tapi itu benar adanya. Bayangkan kalau saja elo tidak pernah gagal, bagaimana elo tau kalo elo udah berhasil?

Astaga gua ngomong apa ya? Beginilah akibat kebanyakan ngebir di siang hari.

Happy Halloween, bagi yang merayakan.

Thursday, September 17, 2009

Mahluk Dunia Maya

Dulu saat gua ngambil kelas Statistik II untuk ketiga kalinya (Gua nggak bego, cuma males aja bolos mulu makanya nggak lulus-lulus. Hehehe. Asik kan pembelaan gua), gua presentasi bedah jurnal statistik yang isinya kurang lebih tentang intensitas dan lama penggunaan Internet pada orang-orang dengan tipe kepribadian extrovert dan introvert. (Tenang, gua nggak mungkin presentasi sendirian koq.) Berat ye omongan gua, nggak betah juga nih ngomongin statistik lama-lama. :p

Singkat kata singkat cerita, intinya tuh hasil penelitian membuktikan bahwa orang-orang yang introvert punya kecenderungan untuk menggunakan internet jauh lebih sering dan lama dibandingkan dengan orang-orang ekstrovert. Kenapa? Tanya aja sama Anova group aja gimana? (Hah? Nggak tau Anova? Wahh, kurang berkualitas sekali ya hidup Anda. Hehe.)
Lanjut, hasil analisis mengatakan bahwa saat berinternet ria orang-orang introvert cenderung menciptakan persona atau kepribadian yang berbeda dengan dirinya di kehidupan nyata. Misalnya, aktif di forum dan milis, kalo chatting bisa berjam-jam, eksis di friendster facebook dan sebagainya. Pokoknya, kalau di kehidupan nyata doi pendiam pemalu dan mengasingkan diri, justru kebalikannya kalau di dunia maya. Nah, mulai seru nih.
Awalnya gua sebagai pembenci statistik dan tidak mudah percaya dengan hasil analisis kuantitatif, mempertanyakan kevalidannya (sok-sok-an ajeee mempertanyakan biar kesannya pinter gituh). Namun akhirnya gua pun mendapatkan bukti nyata. Begini ceritanya...

Adalah seorang blogger yang (kalau dilihat dari blognya sih) nampak bersahaja, rendah hati, riang gembira dan seterusnya. Tapi ternyata eh ternyata, begitu gua ketemu orangnya langsung, hipotesis saya langsung ditolak. Mukanya asem, ngelipet tangan melulu, nggak mau senyum lagi. Mungkin beliau sedang bad mood, saya nggak peduli juga. Yang jelas gua gondok tujuh turunan, masa gua senyumin dia malah melototin gua. Padahal senyum gua bukan senyum-senyum cabul dengan pandangan mata ke arah buah dada. Mungkin juga beliau pikir gua senyum-senyum bermaksut flirting, gua nggak ambil pusing.

Ada lagi seorang blogger yang (kalau dilihat dari blognya sih) nampak banyak omong, banyak komentar, banyak ngeritik, dan seterusnya. (Sumpah yang ini bukan gua, kan gua jarang update blog hehehe) Tapi begitu ketemu orangnya langsung, loh koq melempem. Mungkin beliau merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah pergumulan itu, saya nggak peduli juga.

Sebenarnya omongan gua ini bukan berarti bisa dijadikan contoh kasus nyata untuk membenarkan hasil penelitian yang gua ceritain sebelumnya. Coba aja perhatikan, apakah ada korelasi antara kalimat-kalimat di paragraf-paragraf awal dengan paragraf-paragraf akhir? Nggak ada.

Sekian dan terima kasih.

Sunday, June 14, 2009

Statistik Kopi Darat

Petikan obrolan dengan seorang sahabat di Yahoo Messenger:

Gua: "Kalo kopi darat tuh sebaran probabilitasnya terlalu luas"

Doi: "iya seh kopi darat cenderung mengikuti kurva distribusi normal cwnya. kita bicara sedikit ttg pemodelan mbak. jadi gw memodelkan,,cw ini lumayan cakeplah. tahap berikutnya yg harus digenerate adalah,,verifikasi dan validasi model. verifikasi model berarti kopi darat ntar..."

Gua: "Yaa semoga deskripsi yg dikasi anak ini reliable ya bokkk!! Kalo enggak.. Terpaksa.. Hipotesis ditolak!"

Doi: "tapi gw aja ga ngaku nama asli gw"

Gua: "Lo bilang nama lo siapa? Freddy? Doddy? Joni? Robby?"

Doi: "gw ngakunya randy"

Gua: "Hahaha.. Nama ganteng ye.. Coba lo pake nama bambang atau slamet.. Mau gak ya doi kopi darat?"

Kesimpulan dan saran: berhati-hatilah saat Anda memutuskan untuk melakukan kopi darat.

# Penggunaan istilah ilmiah yang saya gunakan mungkin kurang tepat, harap maklum secara saya belom lulus Statistik 2. Hehehe.
Dan bagi yang memiliki nama seperti yang saya sebut di atas, atau mungkin memiliki kedekatan khusus dengan nama-nama tersebut, semua ini murni rekayasa. Tidak ada faktor kesengajaan. Harap tidak tersinggung. :)

Sunday, May 10, 2009

Somewhere Beautiful

I hate to make a wish because I hate failure, so I didn't make a wish when I first saw you.
I hate to set a high expectation because I hate disappointment, so I didn't expect anything to happen between me and you.
I hate to fall in love with someone I just met because I'm scared I could never see his face again, so I tried my best not to fall for you.
I hate to miss someone I just met because now I'm missing you so much and I don't know what to do.

To me, you're strange and you're beautiful.
I hope we'll meet again somewhere beautiful, lozenge of love. :)

pic credit: leloveimages

Tuesday, April 14, 2009

Impolite Bitches

Dipikir-pikir, blog ini nampaknya mulai berubah fungsi. Berawal dari tahun 2006, dimana gua awalnya pengen nulis-nulis random things yang lebih mutu dibanding blog pertama gua yang dicetuskan pada tahun 2005 (dan akhirnya di akhir tahun 2006 gua hapus dengan tidak sengaja karena iseng ngeklik sana ngeklik sini). Lalu kemudian gua memutuskan untuk bikin kategori ini-itu biar kesannya omongan gua bervariasi namun tetap berbobot. Dan ternyata, gua pun menyadari bahwa blog ini--tanpa disadari--diciptakan untuk ngomongin orang!

Sip kalo begitu. Daripada gua bikin blog baru, nambah-nambahin link, mana susah ngumpulin pembaca, mendingan udah kita ngetemp aja di mari dah. Ngomongin siapa yak? Bingung. Abis yang mau gua omongin (maupun yang sudah gua omongin) beberapa ternyata pembaca blog gua juga. :( Jangan-jangan dia olang (alias mereka) pada penasaran menunggu giliran?

Sekarang gua mau ngomongin orang-orang yang kurang mengerti sopan santun dalam melemparkan pertanyaan maupun melemparkan pendapat akan barang-barang yang gua punya. Sangking kurang sopannya, kadang gua gemes pengen melemparkan truk tinja ke muka mereka. Mari kita bahas bersama-sama.
Manakah yang lebih kurang ajar?
  1. "Ehhh gua tau bener tuh, vest lo Zara kan? Rp. 159.900 kaaann? Ngaku lo!" (Berseru di depan kelas dengan volume suara maximum)
  2. "Ihhh Chekka, pasti jaketnya baru lagi deh. Pasti merk A lagi deh!" (Tanpa tedeng aling-aling langsung menarik kerah jaket untuk mengecek keabsahan merk yang dituduhkan)
  3. "Wah sepatu lo baru ya? Ihh kan gua pengen beli kemaren. Beda warna sih, tapi lo udah pake duluan. Sebel!" (Kalo gak mau samaan, mendingan lo gambar sendiri trus bikin di deket Perbanas aja gimana.? Dijamin kagak bakalan samaan kita!)
  4. "Serius tuh ASELI?!" (Ini jenis penghinaan yang sangat gua benci. Sorry brur, biar kere begini juga gua anti barang KW-KW-an lah yaw.)
  5. "Chekka mahh kalo belanja mana mau ke ITC. Nggak level ya kan Che.." (Ini antara sarkastik, atau sok tau, atau gimana ya enaknya? Ya jelas nggak level, wong gua belanjanya di Pasar Senen!)
  6. "Itu lo beli di mana? Oh ebay, ID sellernya siapa? Ebay US apa ebay mana? Koq gua cari gak ada sih? Harganya berapa? Shipping costnya berapa? Merknya apa? Merk A bukan? Harganya berapa sihh? Nyampe $100? Di atas 300.000-an ya?" (Beli atau ngutil ternyata sekarang sama-sama kena interogasi ye? Udah gak mau jawab masih aja dicecer.)
Anda merasa pernah mengucapkan salah satu kalimat di atas? Jangan tersinggung ya cintah. Kamu hits banget dehhh.... nyebelinnya! ;)

Sunday, March 15, 2009

Kisah Status Facebook nan Menjijikan

Halo teman (halah taek ah). Hayo semuanya ngaku, kalian pasti demen kan killing time dengan baca-bacain status updates Facebook? Gua sih demen, terutama kalo lagi iseng pas boker (pake Blackberry tentunya, gak mungkin gua nenteng-nenteng PC ke kamar mandi cuma demi bacain status updates). Suka lucu-lucu aja bacainnya, walo ada juga yang sok lucu. Tapi seiiring perkembangan jaman dan bertambahnya jumlah teman, status-status di Facebook gua pun jadi gak karu-karuan. Nih yee..

  • Berapa kali dalam seminggu sih kalian ganti status Facebook? Dulu sih, gua ganti status kalo status gua udah diapus sama Facebook dengan seenak udelnya. Sekarang sih tiap hari. Tapi gua usahain banget kalo bisa jangan keseringan ganti status, ntar dibilang nggak ada kerjaan. Ada nih, beberapa kawan yang rajin banget ganti status. Sehari bisa minimal tiga-empat kali ganti status, itu minimal lohhh. Jujur ye, gua sih males bacanya. Masa pas refresh status updates, yang nongol diye lagi diye lagi. Peduli setan deh lo lagi ngapain. Kalo statusnya penting sih fine, kalo kagak???
  • Kalian lebih demen nulis status pake bahasa ibu apa bahasa asing? Soalnya sering nih gua menemukan beberapa kawan yang nulis status pake Bahasa Inggris, tapi busyet dah, kagak ngarti gua artinya apa. Gua juga gak jago-jago amat Bahasa Inggris, tapi setidaknya gua mikir dulu kalo nulis status dengan bahasa inggris; "Grammar-nya udah bener belom ya?". Lah ini!! Udah grammar-nya entah versi inggris mane, ehhh doi nulisnya kayak ABG lagi, gEdE keCiL GeDe kECiL. Misalnya nih: "XXX is ConFuSinG! kEeP cALm aNd PatiEnt." (Percaya gak, gua menghabiskan nyaris setengah jam sendiri buat merangkai contoh kalimat ngawur. Abis kalo gua copy paste dari status si terdakwa, kesian ah hehehe.)
  • Kembali lagi ke menye-menye (yang kebetulan menjadi menu favorit di blog ini), belakangan ini gua menemukan banyak banget status-status yang berbau menye-menye. Nggak cuma perempuan kali ini, bahkan laki-laki pun banyak yang menye-menye di status Facebook. Kalo emang dasarnya cong, nggak papah deh. Lah ini, katanya laki tulen, tapi statusnya lebih jijik daripada banci. Kawan gua banyak yang sekong (atau banci kalo bahasa lainnya), tapi nggak ada yang menye-menye! Atau mungkin pria-pria ini tergolong "Muka Rambo hati Rinto?". Entahlah. Gua kasih contohnya nih, (gua kasih fresh dari status orang): "Biarkan ku sendiri melewati lelapku walau tanpamu di mimpiku.. Kulalui sedihku.." (Mau meninggal gak lo bacanya?)
  • Masih berhubungan dengan menye-menye, tapi kali ini bukan menye-menye bunuh diri, tapi cinta-cintaan. Gua suka pusing deh baca status Facebook orang yang menye-menye sama pacarnya (harus diakui ada sedikit faktor sirik juga memang). Kalo sekali-dua kali, masih maklum deh. Lah ini, udah ganti status tiap berapa jam sekali, isinya menye-menye sama pacar. Apakah fasilitas SMS tidak lebih efektif? Tapi jangan sedih, ada yang lebih parah. Contohnya: "Lagi nemenin pacal ke perpustakaan nichhh berduaan.. Kamu luthu banget sich calll kalo lagi ceriusss" (Bokk, apakah ngomong langsung tidak lebih efektif? Sebelahan lohh!)
  • Kali ini agak sedikit lebih parah. Bagaimana tidak, penting ya semua hal-hal personal di-share di status Facebook? Sampai detik ini belom ada yang nulis ukuran BH atau fakta bahwa dia mengidap penyakit kelamin tertentu di status Facebook sih memang. Tapi apabila status Facebook-nya mengisyaratkan bahwa dia baru saja berhubungan intim atau bahkan rindu untuk berhubungan intim (baca: horny), bagaimana menurut Anda? Entah orang-orang macam ini emang dasarnya exhibitionist apa gimana, tapi menurut gua sich gag pwenting bwanguet ajyahh (menye-menye-nya kambuh). Kasi contoh lagi nih ya, basian dari status-status yang masi kuingat dengan baik: "Seneng bangetttt abis dari puncakk sama pacar... puasss bangetttt!! makasih ya carrrr" (Eh ini apa karena otak gua aja yang mesum ya? Contoh laen deh!) "Kangen pengen honeymoon lagi sama pacar.. kapan yukk yanggg.. kangen dehh.." (Gua sih menangkap 'konotasi mesum' dari status ini. Bagaimana dengan yang lain? Hehehe)
Ini entah emang beberapa kawan gua yang pada najis apa gua terlalu lebay menyikapinya ya. Soalnya gua agak risih aja bacanya. Sama deh risihnya kayak baca status pamer-pamer nggak penting seperti yang telah gua bahas sebelumnya (Hehehe.. Yang gua omongin ternyata baca blog gua juga nek! Doi sempet ngamuk-ngamuk tuh di status-statusnya hehehe.. Hidup memang kejam, brur!). Ah well..

# Sekali lagi, yang merasa tersindir harap jangan tersinggung. Jadikan kritik sebagai pelajaran yang bermakna. Halahhh hahahaha.

Wednesday, February 25, 2009

Another randomness

I've been addicted to ebay and it's getting chronic more and more each day. I could spend like 12 hours browsing ebay while playing with my endless SPSS task. I always have a silly reason for browsing ebay. From searching for something I need the most, to something I don't need. I don't bid and buy, I can only watch them and let my watching items grow hideously. I wish I could just click click click without giving a damn about my mom's credit card bill. (Yes, I did click but I have to pay them thru my mom as soon as I clicked something!)

Another thing that's been hanging on my head is the fashion-blogging trend. Call me late or whatever, I just noticed this! Haha! It's like another must-haves for all the fashion-conscious people, and I was like "WOW!" I have one too, after some of my friends kinda forced me to create one *big grin*, but I don't know apparently it's the next big thing in 'fashion industry'. Don't believe it? See Bryanboy and Sussie Bubble!

Let me explain it briefly. Once you gain loads of readers, there's a chance you might also gain loads of free gifts. This is what my friend has explained to me before, and I have proved that by reading some of top fashion blogs. There's also a chance that you earn money by someone who's interested to advertise on your blog. This is way better than adsense, but you must gain numerous of readers before this chance come along. And there are other possibilities once you got popularity by fashion-blogging.

Me? I just started and kinda thrilled. I have never thought that we could make money or gain popularity by blogging. Well I've been blogging since 2005 and never intend to make some cash or once again, gain popularity. I loathe popularity because once you become popular, you'll gain some haters out there to make your life balanced. And seeing this phenomenon, can't we just make money without getting popular?

However, check out my fashion blog darlings!!!

Monday, January 12, 2009

Kontes Norak Sejagat

Langsung ke pokok permasalahan ya saudara-saudara. Jadi perempuan ini dari jaman gua masih SMP sudah agak disegani karena keanehannya. Bukan lantaran geek atau matanya tiga (seperti di sinetron Muslimah), bukan juga lantaran bau badannya menyengat atau tukang ngebluff (kalau tukang ngebluff lain lagi nanti ceritanya). Melainkan karena doi SKSD tingkat tinggi (tolong jangan nanya SKSD itu singkatan dari apa) dan dia terobsesi gila-gilaan dengan salah seorang pria, murid teladan di sekolah kami.

Cinta itu buta dan cinta pertama akan kekal abadi selamanya (taek ahh). Itu adalah tagline yang sesuai dengan kisah percintaan perempuan satu ini kayaknya. Soalnya, dari jaman pria ini masih single sampai in a relationship dengan siswi teladan di sekolah kami selama bertahun-tahun lamanya (dari SMP sampe kuliah menurut lo?), hingga pria itu single lagi, perempuan ini tetap berusaha mengejar sang pujaan hati dan gembar gembor kesana kemari menyatakan bahwa cintanya yang tulus akan selalu abadi untuk si doi. Salut bener. Gua doain jodoh deh, biar matinye kagak penasaran (bukankah jumlah kuntilanak udah terlalu banyak?).

Dulu jaman orang-orang masih heboh friendster, doi udah terkenal di kalangan alumni smp kami sebagai perempuan sok asik dan sok hip abis. Hobinya kirim-kirim testi (ramah sih ceritanya) yang ujung-ujungnya kalo tuh testi diladenin akan berlanjut jadi ajang pamer dan ajang curhat. Apa yang dipamerin? Tak lain dan tak bukan adalah keberadaannya di negeri adikuasa sono. Padahal kuliah juga gak jelas di mana (menurut kabar yang beredar sih gak kuliah). Apa yang dicurhatin? Ya jelas tentang cintanya yang tak kunjung kesampaian. Anak-anak udah pada males tuh sama doi. Hingga saat fesbuk menggemparkan dunia, kelakuan masih nggak berubah. Cuma kali ini lebih parah.

Hobi pamer gak jelas masih nyangkut di personality trait-nya dia. Caranya adalah, lewat status, lewat wall (modus operandinya masih sama kayak jaman friendster), sama komen di foto. Tapi jarang yang nanggepin sih, cuma di belakang pada bisik-bisik tetangga ngomongin dia. Bagus dia di negara (bukan) tetangga, alias beda kelurahan. Jadi nggak kedengeran.

Pamernya udah nggak lagi tentang letak domisilinya itu. Sekarang udah merambah ke fashion ceritanya. Hmm, bukan fashion sih. Tapi barang-barang mahal. Di statusnya sering banget bilang pengen beli tas ini, tas itu, udah punya tas ini tas itu, dan lebih parahnya lagi dia bilang mau beli Blackberry Gold. Asoy bener kayaknya, udah bisa inventing new gadget. Hehehe. Lanjut ah, ternyata selidik punya selidik, doi beneran tuh beli tas gucci sama bb bold (setelah cek ke toko sebelah, ternyata gak ada Blackberry Gold. Yaudah deh beli yang nyerempet-nyerempet aje gimane?). Pose-pose di fotonya itu gak nahan, kayak lagi liat advertorial di Aneka Yess. Parahnya lagi (mind my dirty mouth), outfitnya itu nggak karu-karuan jek. Jujur jelas gua sirik (tapi jelas gua gak mungkin sirik sama outfitnya). Gua gak punya tas Gucci dan blackberry juga bukan yang bold. Tapi gua sih bersyukur walaupun tas paling hip yang gua punya cuma Rafe for Target, setidaknya outfit gua gak secaur dia. Tuh tas kalo bisa tereak gua jamin pasti jejeritan deh minta dibalikin ke butik, berharap nggak dibeli sama orang kayak dia.

Iseng-iseng baca status dia yang pamer itu, ternyata ada tanggapan berupa komen dari orang gak jelas yang juga sama tuh personality traitnya. Ngobrolin lah tentang tas-tas designer. Nah si perempuan aneh ini, biar keliatan nggak bego-bego amat dalam menanggapi komen tersebut, akhirnya berceloteh seperti ini:

"aku emng kepikiran bli either LV or D&G. tp di toko D&G sini blm ada yg cocok.aq sih sukanya yg handbag aj,ky Epi Leather.gk trlalu suka yg kbykan cap merknya ky model multicolore."

"oh..iya,mahina tuh klo gk salah leathernya ada yg dr kulit buaya.tp kynya bagusan botega ya?klo hermes kyknya agak biasa model2nya"

Yaaa! Mari kita bersama-sama mengucap: WHAT THE?!!

pesan moral: if you don't understand fashion (or anything related to it), just shhhhh!!!