Wednesday, March 05, 2014

Mahalnya Sopan Santun

Halo.
Tanpa gua sadari, blog penuh caci maki ini udah lumayan lama gua abaikan. I was just way too busy. Sampai hari ini, ada kejadian yang bikin tangan gatel ingin ketak-ketik lagi di sini.

I came to one big question mark in my head: Hey anak-anak muda jaman sekarang, apa susahnya sih being polite?

Dengan latar belakang pekerjaan gua (dan label tambahan sebagai blogger), gua beberapa kali berhadapan dengan anak-anak berusia awal 20-an yang (ceritanya) lagi baru mulai belajar kerja profesional. Lucunya, mereka ini punya kesamaan gaya berkomunikasi yang cukup bikin miris: kurang sopan-santun. Ada yang (ceritanya) mau wawancara tapi nggak antusias ketika melemparkan pertanyaan dan bahkan nggak menyimak dengan seksama. Ada yang "ngegampangin" narasumber, berpikir bahwa narasumberlah yang butuh exposure jadi mereka bisa bertingkah seenaknya, nggak mikirin kenyamanan si narasumber. Ada yang ceritanya ngajak kerjasama tapi karena cara kerja mereka masih odong-odong akhirnya malah jadi ngerepotin, dan ketika dikritik malah defensif. Ada juga yang memang dasarnya nggak ngerti sopan-santun aja, berkomunikasi dengan narasumber / senior tapi nggak pakai etika. Padahal, gua udah cukup sabar dan kooperatif. Gua selalu berusaha untuk maklum terlepas dari ketidak-profesionalan mereka.

And today, someone just hit my boiling point. Enam tahun berkecimpung di dunia media, gua tahu banget lah bagaimana repotnya harus menghubungi sejumlah narasumber dan berurusan dengan mereka. Gua juga udah kenyang banget drama-dramaan dengan narasumber yang nggak kooperatif. Makanya ketika gua berada di posisi narasumber, gua berusaha sebisa mungkin untuk kooperatif dan easy to deal with. Tapi kayaknya anak-anak kemaren sore itu nggak bisa dibaikin karena hasilnya mereka jadi kurang ajar dan seenaknya banget. Dan ketika "disentil", mereka malah defensif, agresif, dan nyari cara untuk ngejatuhin kita (yang dianggap lawannya) lagi. Kritik seolah menjadi ancaman bagi mereka, bukan pelajaran.

Ironis ya? Apakah kualitas pendidikan dan pola asuh yang mereka dapatkan mengalami penurunan sedemikian rupa sampai hal basic macam sopan santun aja mereka nggak punya. Mereka sadar nggak sih, jenjang karir itu panjang adanya. Baru masuk kerja nggak bikin lo serta-merta mahir di bidang itu. Masih banyak banget orang yang lebih senior, lebih ahli, dan punya jam terbang lebih banyak. Rasa sadar akan "gua masih belum apa-apa" kayaknya sudah lama absen dan akhirnya, wabah penyakit "sombong dan nyolot" pun melengkapi hidup mereka.

Padahal gak butuh tenaga ataupun keterampilan khusus loh untuk "being polite". Cukup terapkan pemikiran betapa pentingnya menghargai orang lain. As simple as that. Jangan mentang-mentang merasa elo lebih benar, lebih pinter, lebih hebat, lebih jagoan, lebih ina-itu daripada orang lain terus elo bisa bertingkah semena-mena dan berbicara seenaknya. Apalagi sama yang lebih senior. Karena bisa aja suatu saat nanti elo harus mengais-ais memohon-mohon meminta bantuan ke orang itu, dan bitch please, males banget ya kan bantuin orang yang nggak mengerti sopan santun.

Terus kalau sudah nggak tahu cara bersopan-santun, gimana bisa tahu cara minta tolong dan berterima kasih? Bisa jadi sopan santun nantinya akan menjadi barang langka yang diburu kolektor barang antik di eBay. Mungkin sudah saatnya dibuka kursus sopan santun untuk generasi muda kita. Atau bahkan sopan santun harus dijadikan pelajaran wajib di kurikulum baru.


Thursday, March 15, 2012

Karmakoma

Aloha kawan-kawan.

Setelah mengarungi badai dan ombak selama berbulan-bulan, akhirnya gua bisa ngaso sebentar dan mewartakan sejumput unek-unek yang mengganjal di hati. Adapun unek-unek itu berupa sebersit pertanyaan dan segenggam rasa heran terhadap segelintir orang yang merasa 'beruntung'  karena dirinya dan jalan hidupnya  lebih baik dari orang-orang yang 'kurang beruntung', dan dengan rasa beruntung itu mereka pun merasa apa yang telah mereka perbuat sepanjang hidupnya  lebih baik dari orang-orang yang kurang beruntung tersebut.

Terminologi tokoh sialan tersebut dalam bahasa asing: self-righteous bitch.

Dari begitu banyak self-righteous bitches yang pernah gua temui, sebagian besar dari mereka percaya sama karma. Ide dasar karma memang bagus, apa yang kamu perbuat akan kamu petik hasilnya di kemudian hari. Tapi ketika karma dijadikan sebagai jawaban dari segala ketidak-beruntungan yang terjadi pada seseorang, I object that idea. Ketika seseorang mengalami musibah, kira-kira pantes nggak sih ada yang (secara tidak langsung) bilang "Mampus lo kena karma!". Coba bayangkan apabila itu yang terjadi pada lo. Gimana perasaan lo?

Ada juga orang yang reus dengan koar-koar bersumpah akan menghindari perbuatan-perbuatan yang--menurut moral mereka--salah, dan menghakimi orang lain yang melakukan perbuatan tersebut dengan mengatakan "Ih gua sih takut karma". Males nggak sih lagi seru-seru ngomongin orang (yang kebetulan emang pantes diomongin, kalau perlu dibahas secara ilmiah) terus tiba-tiba ada yang nyeletuk takut karma. Like helloh, takut karma tapi ikut ngetawain apa nggak sama aja ya?

Menggelikan ketika karma dijadikan sebagai dasar untuk menghakimi seseorang. Terlebih ketika self-righteous bitch itu melihat orang yang tidak mereka sukai mengalami kesusahan. Apakah mentertawakan dan menghakimi bahwa seseorang mendapatkan karma juga bukan perbuatan yang baik dan menyenangkan? Lantas bagaimana dengan korban-korban pelanggaran HAM, kekerasan seksual, anak-anak terlantar, orang-orang yang meninggal karena kelaparan, apakah itu semua  menimpa mereka karena karma? Do you even know what they have done to deserve all of those?

Kemudian gua pun berpikir, in some case, mungkin sebagian orang yang menggunakan karma untuk menghakimi orang lain memang pada dasarnya sudah menanam rasa tidak suka, benci dan dendam kepada orang yang bersangkutan. Hingga akhirnya, kata "karma" dan "eat that shit" menjadi serupa. Ketika elo disakiti atau dikecewakan orang lain, pastilah elo punya hasrat untuk membalas. Tapi pada kenyataannya, terkadang elo tidak mampu untuk membalas sehingga akhirnya elo menyerahkan pembalasan ini pada Tuhan dan karma. Dan ketika orang yang lo anggap berdosa itu mendapatkan pembalasan berupa kesulitan atau musibah, elo pun meyakini bahwa Tuhan dan karma telah menjalani tugasnya. Lo kate Tuhan sama karma algojo bayaran? Please deh cong.

Mungkin memang tidak sepantasnya manusia menggunakan "karma" sebagai patokan seberapa baiknya diri sendiri dan seberapa buruknya orang lain. Jadikan "karma" sebagai dasar diri lo untuk terus berbuat baik. Persetan deh dengan amal baik dan perbuatan buruk orang lain. Ketika kerjaan lo cuma menghakimi keburukan orang lain, elo juga pantas untuk mendapatkan bad karma.

Saturday, October 29, 2011

Tokoh-tokoh Twitter

Belakangan ini beberapa isi timeline gua suka bikin asam lambung naik. Diperparah dengan 'hobi lama' gua yakni membaca (alias kepo) timeline seseorang tanpa harus memfollow dengan tujuan mencari sisi cela untuk dicela. Hehe. Dari hobi membaca ini gua menangkap semacam trend di social media seperti Twitter, meskipun bukan trend baru memang, yaitu trend pencitraan.

Trend pencitraan itu sendiri sebenarnya juga bukan barang baru di khasanah jejaring sosial dunia maya. Dari jaman Friendster misalnya, banyak banget yang membangun image sedemikian rupa sehingga orang-orang yang mengakses laman profilnya akan mendapatkan gambaran seperti apa sih karakter dan gaya hidup individu ini. Apalagi dengan adanya kolom "about me". Semakin panjang kolom "about me" seseorang, bisa jadi semakin ngebet ia ingin dikenali khalayak ramai. Selain kolom-kolom biodata itu, seseorang juga bisa melakukan pencitraan dengan foto-foto profil yang mereka unggah. Ada yang ingin terlihat normal, banyak juga yang ingin terlihat nakal. Ingat trend foto profile berupa self-portrait dari atas langit dengan fokus ke payudara yang menyembul? Atau foto adegan ranjang muka bantal dengan tatapan binal? Atau yang paling sederhana, self-portrait pura-pura gak liat ke kamera. Ada juga self-portrait telanjang, khusus yang ini silaken googling sendiri mumpung belom diblokir Tipatul.
(selingan aja ini biar pada melek, daripada gak ada gambarnya sama sekali ye pan?)
 
Kembali ke Twitter, beberapa bulan yang lalu sih gua cuma mencium aroma pencitraan lewat twit-twit yang sok baik-baik, sok lempeng, dan sok bahagia. Pretentious banget lah. Belakangan ini gua lihat pencitraan di Twitter semakin berkarakter. Lo mau jadi apa di Twitter? Orang pinter? Orang kaya? Pelawak? Selebritis? Tukang kritik? Motivator? Anak gaul? Penjilat? Social climber? Pemuka agama? Pakar ini itu? Pasangan bahagia? Atau tukang pantun?

Fenomena yang gua tangkap adalah ketika 'orang biasa' dalam artian bukan selebriti atau sejenisnya berusaha mati-matian mengadopsi gaya tweeting yang banyak digemari atau yang berhasil menjaring banyak followers demi mendapatkan kesuksesan yang sama. Kalau mereka punya kapasitas untuk menjadi pakar ini itu misalnya, ya tentunya yang baca asik-asik aja bisa nambah pengetahuan. Tapi kalau memang cuma buat keliatan keren, hellohhh.

- Tipe orang (sok) cerdas: suka ngetwit pandangan, pendapat maupun ideologi terhadap suatu kasus tertentu, kadang dengan bahasa yang sok menjelimet. Suka komentarin pendapat orang, ngajak debat kusir, twitwar, gigih dalam menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengannya, selalu berpikir bahwa pendapatnya adalah yang paling benar dan minimal pernah melakukan satu kali kultwit.

- Tipe orang (sok) kaya: twit yang sarat akan memamerkan kekayaan, kemewahan dan kehedonan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para followers orang tipe ini. Apa pun harus dipamerkan mulai dari twit tempat makan, barang yang dibeli, barang yang ditaksir, destinasi yang dituju, hingga mungkin merk sabun cuci piring yang ia gunakan. Ehm, gua termasuk tipe yang ini sih kayaknya. Abis kalo gak dipamerin di Twitter, di mana lagi? :P

- Tipe pelawak: biasanya orang jenis ini cenderung untuk meniru pelawak-pelawak yang sudah ada. Intinya, trying so hard to drop the funniest line alias sok lucu. Tapi ya mungkin ada aja sih yang ketawa.. alias ketawain.

- Tipe selebritis: hobi me-retweet puja dan puji dari followers dan konsisten menyapa selamat pagi selamat siang selamat makan selamat malam selamat bobo. Ngikutin Princess Syahrini kali ye. Bay!

- Tipe tukang kritik: ya tentunya isi tweetnya tak lain adalah kritik dan keluhan. Mulai dari masalah politik, sosial, budaya, hingga masalah personal. Tak jarang kritikan ini bertujuan untuk menyerang. Biasanya yang jenis ini paling hobi pake hashtag #nomention.

- Tipe motivator: ini dia yang paling reus dan bikin eneg. Seriously dude, we've had enough bullshit in daily basis. Apalagi kalo twitnya sok memotivasi, sok insipratif, tapi koq secara bersamaan juga judgemental sekali. I know we're all fucked-up, life fucks us all. So stop being pretentious, spread an overwhelmingly positive energy, just to make the whole world think you're so goddamn wise. Go to hell with Mario Teguh your wisdom.

- Tipe anak gaul: isi twitnya gak jauh-jauh dari foursquare yang selalu update nyaris tiap 15menit sekali. Selain itu hobinya juga memamerkan isi obrolan dengan teman-teman (baca: RT abuse) sampai-sampai kalau mau baca seluruh isi obrolannya harus 10x klik link twitlonger yang berbeda-beda.

- Tipe penjilat: yang ini tergantung siapa yang dijilat (konotasi loh ini). Biasanya tipe ini gak pernah absen muji-muji orang yang mereka jilat itu. Pokoknya sebisa mungkin di setiap kesempatan harus mention orang tersebut. Maksud terselubungnya macem-macem, ada yang pengen cingcay kalo butuh bantuan, ada yang pengen PDKT, ada yang pengen nitip oleh-oleh, ada yang berharap dikasih pekerjaan, ada yang ngincer gratisan, ada pula yang berharap diundang traktiran. Yang berharap ditraktir ini biasanya sifatnya musiman, alias menjilat kalau tau mau ada event-event tertentu seperti misalnya hari ulang tahun, kelulusan, naik gaji / naik pangkat, sunatan, sampai ke kawinan.

- Tipe social climber: hobi menempelkan nama twitter selebtwit di twit-twitnya agar terlihat keren dan dapat mendongkrak status sosialnya. Poqoqnyiah syeluruch dhuniyya pwerlu bwangged tawu qalok ghuweh aqrabh bwangged syama niech orangg. Tak lupa mereka juga suka meminta di-RT oleh si selebtwit. Numpang tenar dikit, cing.

- Tipe pemuka agama: nah biasanye nih nyang begini ini hobinye ngutip ayat-ayat dan mengomentari moral, perilaku, dan amal ibadah orang lain. Ironisnya kadang ayat-ayat yang dikutip itu ditujukan untuk menyindir seseorang. Tipe yang begini gini nih biasanya hobi nonton ceramahnya Mamah Dedeh.

- Tipe pakar ini-itu: adapun maksud dari kata "ini-itu" mencakup begitu banyak hal. Contoh yang paling gampang dan banyak ditemukan adalah pakar sepakbola, pakar politik, pakar seks, pakar film, pakar mode, dll. Sama halnya dengan tipe pelawak dan tipe sok pinter, mereka ini ingin dipandang sebagai orang yang punya kapasitas dalam bidang tertentu. Ngetwit sih bebas aja, tapi inget loh ada yang jauh lebih menguasai bidang itu daripada Anda. Jadi jangan SOK! (ngetiknya pake dendam)

- Tipe pasangan bahagia: bah, sering banget nih pasangan-pasangan pada unyu-unyuan di Twitter. Bebas sih mau public display of affection di social media, tapi kalau sampai membagi informasi aktivitas ranjang menurut gua sih gak perlu (dengan catatan kalo mainnya di ranjang loh ya, kalo mainnya di mobil perlu di-share tuh di mana lokasi yang 'aman'). Yang nyebelin lagi adalah mereka (terutama pasangan menikah) yang mem-bully temannya yang single. Khusus untuk pasangan sialan ini akan gua bahas secara eksklusif di lain kesempatan.

- Tipe cas-cis-cus: ini banyak juga gua temukan di Twitter, di mana doi sebenernya gak jago-jago amat Bahasa Inggris tapi demi keliatan keren dan intelek ya ngetwitlah doi (dengan modal kamus Indonesia - Inggris atau google translator bagi yang agak niat). Walhasil, ya kita-kita yang baca ini gak mudeng doi sebenernya lagi ngomong apa. Orang-orang yang ngotot ngetwit Bahasa Inggris amburadul ini kayaknya perlu dikasih doorprize berupa voucher kursus Bahasa Inggris.

- Tipe tukang pantun: follow @tifsembiring.

Tipe yang manakah kamu? ;)
pic source: google image

Tuesday, September 20, 2011

Korupsi Mantan

Kemarin gua bertemu seorang kawan lama setelah lima tahun tidak pernah berjumpa. Seperti biasa, gosip tetap menjadi menu ice-breaking yang paling nikmat. Perbincangan pun mengarah ke salah satu mantan gua. Gua bergunjing mengenai si mantan yang tidak lagi sudi berjumpa dengan gua setelah kami putus hubungan. Teman gua pun melontarkan pertanyaan, bagaimana kabar si mantan selepas 'kasus' di organisasi kampus yang pernah kami geluti bersama.

Sebagai individu dengan kapasitas memori yang terbatas, gua kaget mendengar kata 'kasus'. Menanggapi ketidak-mengertian gua akan kasus yang dimaksud, teman gua itu (sebut sama si Sukimin) mengemukakan adanya isu penggelapan uang organisasi yang dilakukan oleh mantan gua. Sontak gua makin kaget. Karena eh karena, selama 1,5 tahun kami pacaran selalu gua yang keluar uang, dan setahu gua pun doi ini keluarganya memang dulu ada masalah finansial. Jadi kalaupun doi korupsi, jelas gua sebagai orang yang ketika itu sangat dekat dengan doi tidak habis pikir kemana uang itu melayang. Kasus ini berhasil membuat si mantan dan gua teralienasi di organisasi itu. Dan dulu si mantan hanya bilang semua ini karena ada rekan yang 'menusuk dari belakang'. Tentunya konotasi 'menusuk dari belakang' ini bukanlah secara seksual karena kebetulan mantan gua bukan gay ataupun biseks.
Sepanjang perjalanan pulang gua masih sibuk membongkar kembali serpihan-serpihan ingatan lima tahun lalu yang tertimbun memori-memori baru. Tapi gua terlalu pikun untuk bisa menyusun kepingan puzzle yang entah tercecer di mana. Gua pun kembali bergosip dengan kawan sepergunjingan yang kebetulan memiliki kapasitas otak di atas rata-rata demi memecahkan misteri kekepoan gua ini. Ternyata, mantan gua tidak korupsi seorang diri. Entah bagaimana detailnya, yang jelas uang organisasi itu digunakan untuk "party" atas kesepakatan bersama. Arti kata 'bersama' ini tentunya hanya mencakup sebagian orang, ada pihak-pihak yang tak diajak rundingan. Mereka ini pula lah yang akhirnya menjadi salah satu pihak yang menggonggong merasa paling dirugikan. Dan orang-orang yang sempat seide-seiya-sekata tentunya lepas tangan, dan menuding mantan gua sebagai pihak yang patut disalahkan. Ironisnya, mereka tidak mengakui uang itu dipakai berpesta bersama, sehingga rumor pun menguak bahwa mantan gua lah yang mengambil semua uangnya (dan gua tetep gak nyicipin tuh duit loh bokk!).

Dulu, lima tahun yang lalu gua masih terlalu polos dan bego untuk mengerti politik tai kucing ini. Sekarang gua mengerti. Pada organisasi kampus yang kecil ini saja mahasiswa, yang mana adalah generasi muda, sudah bisa berspekulasi untuk korupsi dan berkonspirasi untuk mencari kambing hitam. Mengambil dan menikmati apa yang bukan haknya, lalu lempar batu sembunyi tangan. Ini mengingatkan gua akan kasus penggelapan dana yang dilakukan oleh si Nazarudin dkk. Hasil kesepakatan bersama, tapi begitu terungkap mereka lepas tangan pura-pura tidak tahu-menahu. Ironis karena orang yang dianggap 'sahabat' sama mantan gua ini justru paling vokal menuding mantan gua sebagai tersangka tunggal. Hanya karena uang yang tak seberapa, yang toh habis untuk dibelikan minuman buat mabok-mabokan bersama, dia rela menanggalkan persahabatan yang telah lama dibina (tsaaah!). Dan akhirnya, ketika gua lagi cuci piring, gua pun ingat si mantan gua ini menggunakan uang beasiswanya untuk membayar uang yang konon ia korupsi. Bagus sih, mantan gua bertanggung-jawab (bangga dikit). Tapi ini jadi sama saja mantan gua yang bayarin party kan?

Melihat kasus ini gua jadi semakin skeptis korupsi benar-benar bisa dituntaskan di negara ini. Terlalu utopis rasanya. Uang adalah seperangkat alat yang menjanjikan kenyamanan, kenikmatan, keamanan, dan kesenangan. Siapa yang bisa menolak uang? Apalagi ketika kasusnya bukan cuma satu-dua orang yang akan menikmati itu. Semua ingin senang, semua ingin nikmat, semua ingin aman makanya dibagi-bagi biar semua sama senang. Sama halnya lah dengan kasus Partai tenda biru yang lagi marak itu kan? Itu cuma segelintir contoh yang kebetulan terkuak. Gua yakin masih banyak sekali orang yang sedang asyik menikmati hak orang lain secara diam-diam.

Hey mantan, kalau kamu baca ayo donk ketemuan sebelum aku nikah tahun depan. :P

Sunday, June 05, 2011

The Magical Mystery Tour: RSCM Jakarta

Just got back from The Magical Mystery Tour to Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta! It was like a dream came true because I've always wanted to visit this infamous hospital since I was a kid. Rumor has it that this hospital is beyond spooky and I've heard some eerie true stories that happened in and around the hospital. It makes me so curious! So with a help from my bestfriend who works there, I could finally have a tour at RSCM and I even got the privilege to visit the old and abandoned building that's gonna be demolished soon! Too bad I didn't take many pictures because I was so excited looking around and asked the history of each and every rooms. So here you are the pictures. Don't expect good quality pictures because I only used my iPhone camera and 'retouch' them with instagram. Hope you guys enjoy it!
Honestly, the hospital is not as haunted as I thought. Most of the old buildings are already renovated and the colonial architectures are modernized. There are indeed some creepy spots and objects in the soon-to-be demolished building that made me so gutless to take some pics. Guess my amygdala is still working, then. Teehee.
I would love to have another Magical Mystery Tour to somewhere else! Abandoned places would be the best destination for me as a melancholic bitch who loves to reminisce the history. Any recommendations, people? Drop me a line! :D

Saturday, May 21, 2011

Monolog

Seperti yang sudah dijanjikan jauh-jauh hari, ini cerpen gua yang (berhasil) dimuat di Majalah Sastra "Horison" edisi Januari 2009. Selamat menikmati. :)


MONOLOG

Senin. 9 AM. Kopi pertama.
Aku letakkan koran pagi di atas meja dengan kasar. Kamu baru pulang dengan baju berantakan, rambut acak-acakan, dan sepatu ditenteng asal-asalan. “Kamu tahu jam berapa sekarang?” tanyaku kesal.
“Maaf Sayang, sehabis lembur aku ketiduran di kantor.”
Aku menghela nafas dengan berat, kamu pasti habis tidur dengan sekretarismu lagi.
Lagi! Keparat memang perempuan itu! Tapi aku bisa apa? Tidak bisa apa-apa! Sudah tujuh tahun aku membina rumah tangga dengan kamu dan sudah tujuh tahun pula aku mencoba beradaptasi dan menerima kebiasaan burukmu yang tidak dapat disembuhkan meski kamu telah menjalani begitu banyak terapi-terapi yang menguras uang kita. Penyakit kamu: bermain gila.
Tapi lagi-lagi dan lagi, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menghela nafas dengan berat. Menahan bongkahan batu di dada tanpa bisa mengeluarkannya dan membantingnya hingga hancur berkeping-keping. Kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalani dan menikmati kebiasaanmu yang kamu anggap menyenangkan. Aku ingin sekali menampar kamu, memukul kamu, membunuh kamu! Tapi aku hanya bisa berpura-pura menjadi istri yang baik, menerima suami apa adanya, dan pasrah dengan segala perlakuan suaminya.
Aku bahkan tidak bisa bercerita dengan siapa pun juga. Tidak dengan sahabat, tidak dengan keluarga. Aku hanya bisa bercerita pada diri sendiri seperti orang gila. Betapa aku ingin menceraikanmu tapi tidak kuasa. Betapa aku muak harus berpura-pura bahagia menikah denganmu meskipun belum juga dikaruniai anak karena kamu sangat jarang ada untuk bercinta. Betapa aku lelah menutupi kebusukan kamu di depan keluarga. Aku ingin lari dari semua ini tapi terhalang oleh sekedar kata ‘tidak bisa’.
10 AM. Kopi kedua.
Kulihat kamu keluar dari kamar dengan rambut basah, wajah segar, pakaian rapi, dasi di pundak, dan tas laptop di tangan kiri. “Langsung kerja lagi?” tanyaku sinis.
“Iya, ada presentasi penting.”
Aku hanya bisa tersenyum getir. Bukan presentasinya yang penting, pasti klien cantiknya itu yang penting. Perempuan muda cantik dan cerdas yang pernah kupergoki sedang asyik suap-menyuapi dengan suamiku di sebuah restoran di mana dulu kamu melamarku. Perempuan yang pernah kudapati habis bercinta di rumah ini dengan mengenakan gaun tidurku. Perempuan keparat setelah sekretaris tidak tahu malu itu! Dan aku hanya bisa tersenyum sambil menahan gejolak emosi dalam kalbu.
Tanpa menganggapku ada, kamu langsung pergi meninggalkan aku sendiri lagi dan sendiri lagi di rumah kosong ini. Aku hanya bisa mendengar suara mesin mobilmu yang terasa semakin lama semakin menjauh. Andai aku mampu berbuat sesuatu. Sesuatu yang dapat melepaskan diriku dari kungkungan emosi jiwa yang membuatku tidak dapat berbuat apa-apa. Andai aku bisa berontak!
Aaaaaaaaaaaaarrgh!!!!!!!!
Tak sadar aku telah membanting cangkir kopi dan menginjaknya. Darah segar bercampur dengan kopi hangat di lantai.
Selasa. 10 AM. Rokok pertama.
Kudengar dari seorang teman, kamu main-main ke daerah Kota tadi malam. Dan pagi ini kamu baru pulang dengan wajah ditekuk, membuatku berasumsi kamu tidak puas dengan pelayanan pelacur yang kamu sewa. Aku enggan menyapa. Enggan pula menatap wajahmu. Berharap kamu yang berinisiatif untuk melakukannya. Tapi ternyata kamu bahkan tidak peduli aku ada.
Aku tatap mata kucingku yang duduk berseberangan denganku, berharap kami bisa berbicara lewat kontak mata. “Aku benci dia!” aku mendesis. Kucingku hanya mengedipkan matanya, aku mengartikannya sebagai tanda mengerti. Aku ingin menceraikannya. Aku ingin membunuhnya. Aku ingin dia binasa!
10.15 AM. Rokok kedua.
“Sayang, kamu nggak masak ya?”
Aku tidak punya racun untuk kujadikan bumbu masakan yang lezat, Sayang. Aku malas masak tanpa racun. Karena tanpa racun kamu akan baik-baik saja memakan masakanku. Aku tak mau kamu baik-baik saja. Aku ingin kamu mati, Sayang. Aku ingin kamu kejang-kejang dan tewas dengan mulut berbusa setelah memakan menu spesial buatanku. Dan akan dengan senang hati aku galikan liang lahat untuk kamu. Berapa meter pun kedalaman yang kamu pinta. Akan aku gali dengan segenap tenagaku. Karena aku mencintaimu, Sayang!
“Kamu tuh ya, gimana suami bisa betah di rumah kalau nggak pernah melayani suami?!”
Bagaimana aku mau melayani kamu kalau kamu sendiri tidak pernah betah di rumah?!
Rabu. 11 PM. Botol pertama: Merlot.
Dengan ditemani musik bernuansa gelap aku menegak Merlot dalam jumlah banyak. Aku menertawai diriku sendiri dengan airmata terus berlari dari pelupuk mataku melewati lintasannya di pipiku. Mentertawai betapa beruntungnya perempuan muda biadab itu karena telah berbadan dua. Betapa sehat rahimnya karena tak perlu menunggu lama sperma suamiku telah berhasil membuahi sel telurnya. Betapa malu aku pada semua manusia sejagat raya karena aku sendiri tidak pernah lagi merasakan nikmat bercinta dengan suamiku seusai malam pertama. Betapa aku ingin... Aku ingin mati saja.
Botol kedua: Chivas.
Aku merasa begitu ringan. Begitu tidak berdaya. Aku hanya bisa merebahkan diri di sofa sambil meneguk Chivas langsung dari botolnya. Tapi aku merasa mengangkat botol pun aku sudah tidak bisa. Yang aku bisa hanya memejamkan mata.
Warna-warni neon berputar-putar menghantam kepalaku selama aku memejamkan mata. Lalu warna-warni itu berpendar, memudar dan membentuk suatu siluet. Siluet seorang lelaki dan perempuan buncit. Siluet itu semakin jelas, dan kini tak lagi menjadi bayang-bayang yang samar. Aku mengenali bayangan dua orang itu, bayangan yang sangat familiar. Suamiku dan perempuan muda itu sedang bercengkrama di titik buta mataku. Mereka berdansa, bermesraan, saling menggeliat manja, saling meraba.
Aku memaksakan diri untuk membuka mata. Ruangan mendadak berputar dan berputar dan terus berputar tanpa henti. Aku mencoba untuk bangun dari rebahku, mengambil botol Chivas dan meneguknya dengan rakus hingga tetesannya membasahi leher dan dadaku. Kini yang tersisa hanya rasa panas di sekujur tubuhku. Rasa panas yang memotivasi aku untuk bergerak ke dapur dan mengambil sebilah pisau paling tajam yang aku punya.
Langkahku begitu ringan, seperti melayang. Sesekali aku menabrak sofa atau benda-benda lainnya yang menghalangi perjalanan panjangku menuju dapur. Sesampainya di suatu tempat yang aku yakini sebagai dapur, aku mulai meraba-raba mencari pisau.
Pisau. Pisau. Pisau.
Kini pisau yang kucari telah berada dalam genggamanku. Ujungnya yang mengkilat menggodaku untuk sekedar mengecupnya hingga bibirku berdarah. Aroma darah langsung menusuk ke hidungku dan menciptakan sensasi yang luar biasa. Aku rindu aroma ini. Dan aku ingin mencium aroma ini lagi. Aku pun menggoreskan mata pisau ke lenganku hingga aku merasa sensasi perih yang cukup hebat. Namun aku merasa kurang. Aku ingin aroma yang lebih kuat lagi!
Tapi aku tidak kuat. Kepalaku luar biasa pusing dan tenagaku mendadak lenyap. Aku terjatuh ke lantai. Aku merasa lemas. Aku mual. Dan tumpahlah segala yang baru saja aku teguk, membasahi lantai yang telah basah oleh darah.
Kamis. 9 AM. Rokok pertama.
Aku menghela nafas panjang. Bosan. Terlalu bosan untuk bilang saya tidak bosan. Bosan yang luar biasa bosan. Rumah sepi. Nyaris kosong. Tapi tidak sesepi dan sekosong isi kepalaku. Aku sudah buang semua isi kepalaku tadi malam. Aku buang karena aku sudah terlalu bosan.
Kucingku menggeliat manja di pergelangan kakiku. Aku tidak merespon. Aku bosan. Bahkan dengan kucingku saja aku bosan. Bagaimana dengan manusiaku: suamiku? Bagaimana dengan aku? Aku terlalu bosan untuk bilang saya tidak bosan dengan semua yang bernyawa dan hidup di dunia. Termasuk kamu. Iya, tentu saja termasuk kamu!
Kamu yang sedang tertidur dengan nyenyaknya. Kamu yang sering meninggalkan aku demi kesenangan lahir batinmu. Kamu yang juga telah menghamili seorang wanita muda. Kamu yang membiarkan wanita lain merusak rumah tangga yang telah susah payah kita bina. Kamu yang suka jajan-jajan di daerah Kota. Kamu yang sombong dengan keperkasaan yang kamu punya!
Meskipun kamu pula yang menggendongku kembali ke kamar dengan keadaan bercucuran darah dan mengobati semua luka di tubuhku. Namun tidak dengan luka yang telah kamu torehkan di hati dan jiwa yang terlanjur cacat selamanya.
Dan rasa pusing dan mual terus saja menghantamku.
Rokok kedua.
Aku menghisap rokok dalam-dalam dan kuhembuskan asapnya ke muka kucingku yang tak punya dosa. Dia sudah terbiasa hidup di tengah-tengah gumpalan asap dan abu rokok, maka dia diam saja sambil memejamkan matanya yang bulat hingga akhirnya dia tertidur di pangkuanku. Kucing yang malang, gumamku. Apa jadinya kalau aku jadi kucing dengan majikan seperti aku? Aku pasti akan memilih untuk kabur dan berkelana untuk menghidupi diri sendiri daripada harus tercekik rasa bosan yang tidak tertahankan lagi.
Apakah kucing juga mempunyai rasa bosan?
Rokok ketiga.
Aku berjanji pada diriku sendiri ini adalah rokok terakhir untuk pagi ini. Paling tidak sebelum aku mandi pagi. Paling tidak sebelum aku pergi. Paling tidak sebelum akhirnya aku memutuskan untuk bunuh diri. Atau mungkin membunuh suami.

19 September 2006, 10:09 PM

Saturday, May 14, 2011

Lonely Lullaby

Kesepian adalah remahan cita dan asa yang tak bersambut dengan fakta.
Sepi melumuri dinding buta dan jarum arloji berkarat yang terus bergerak pelan tanpa suara.
Kesepian adalah pupusnya cita dan asa yang melebur dengan airmata.
Sepi binasakan kata dan bisikan yang didamba-damba.
(14 May 2011, 2:57 AM)

I wonder how did the old couples in decades ago survive their long distance relationships? No skype, no email, no telephone call. The only way to communicate was by writing a letter / postcard. I mean, one of the worst ways to miss someone is to keep wondering. Wondering if he/she thinks about you as much as you do.

Tuesday, May 03, 2011

Idiot Box

Gua akhirnya kembali menulis di blog ini setelah tak sengaja dirudung kegelisahan akibat beberapa kali menonton sinetron di beberapa stasiun televisi lokal. Adapun kegiatan menonton sinetron tersebut bukanlah suatu kesengajaan, melainkan karena tidak ada pilihan. Sebagai pengangguran, kalau bosan membaca buku dan berselancar di dunia maya, terkadang gua tergoda untuk menyiksa mata memandangi tayangan di layar kaca. Meskipun tersiksa, gua bisa dibilang beruntung karena punya banyak pilihan: tetap menonton televisi atau pergi mencari hiburan yang lain. Tinggal di Jakarta dengan banyaknya variasi hiburan membuat gua (sebetulnya) bisa bebas terlepas dari jeratan acara televisi yang menyesatkan. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak tinggal di kota, tidak memiliki akses internet, berdomisili nun jauh dari pusat kebudayaan maupun pergaulan, dan toko-toko buku yang tak sekedar menawarkan buku-buku agamis dan sejenisnya?

Sinetron dan infotainment menjadi sumber kejijikan gua terhadap televisi. Dari gua bangun pagi, makan siang, menghabiskan waktu siang yang lengang, iseng menikmati sore hari, makan malam, hingga ketika gua tak bisa tidur selepas pukul 12 malam, acara hiburan di televisi tak jauh dari sinetron dan infotainment. Tak lupa diselingi oleh iklan-iklan kuis dan ringtone yang membuat gua acap kali membatin "What the heck?!!". Ketika beralih menonton acara berita pun gua kembali dikecewakan dengan kualitas berita yang ditayangkan, seperti misalnya berita mengenai Briptu Norman yang kelewat repetitif sehingga membuat gua alergi setiap mendengar lagu Chaiya Chaiya. Tapi mungkin reaksi seperti itu hanya gua yang mengalaminya. Bagaimana dengan mereka di luar sana?

As much as I hate the repressive era in the new order, gua harus mengakui bahwa acara-acara televisi di jaman pemerintahan Soeharto lebih berkualitas dibandingkan sekarang. Sinetron-sinetron di masa itu banyak yang diangkat dari novel-novel sastra yang tentu saja tidak sembarang ketik tanpa mengindahkan estetika dialog dan alur cerita. Kualitas akting dari para pemain pun terjaga. Selain sinetron, acara-acara kuis di era 90-an juga cukup informatif dan sangat menghibur. Kuis Piramida, Kata Berkait, Tak Tik Boom, Siapa Dia, hingga Berpacu dalam Melodi menjadi favorit gua di masa itu karena gua dapet informasi-informasi baru yang gua gak dapet di sekolah. Gua pun masih ingat betapa lugas pembawa berita Dunia dalam Berita ketika menyampaikan "sari berita penting". The last but not the least, banyaknya hiburan anak mulai dari acara kartun, klip musik anak, hingga pembahasan pelajaran IPA / IPS yang dikemas dalam semi-drama di Televisi Pendidikan Indonesia yang pada akhirnya pun gagal mendidik sebelum kini berganti nama.

Sekali lagi, gua (dan beberapa pemuda generasi gua) bisa dikatakan beruntung pernah merasakan nikmatnya menonton televisi. Mungkin kenikmatan tersebut masih dapat dirasakan bagi masyarakat luas di luar sana, yang hiburannya tak lain adalah televisi. Namun sungguh miris melihat mereka, yang mungkin tidak mampu mendapatkan informasi dan/atau pendidikan tinggi, harus menelan informasi-informasi yang sarat akan kebodohan yang disuguhkan melalui media televisi. Mungkin gua terkesan merendahkan pekerja televisi, tapi bener deh, dengan 'isi' sinetron dan infotainment yang (menurut gua) tidak menyodorkan informasi penting apa-apa selain teori "orang baik selalu ditindas kemudian ditabrak mobil dan orang jahat selalu melotot dan berbicara sambil membentak" dan/atau "artis A bercerai, minggu depan kepergok pacaran, bulan depan kawin lagi" dan sebagainya. Sinetron seolah menawarkan hipotesis bahwa hidup ini kelewat rumit sehingga harus dihadapi dengan seember airmata dan drama kumbara. Infotainment seolah mengajarkan masyarakat untuk harus terus uptodate, kepo, dan semangat menginvestigasi urusan 'dapur' orang lain. Tayangan berita menyodorkan fakta bahwa negara ini punya terlalu banyak masalah dan problematika nan rumit, yang secara tidak langsung seolah menjustifikasi teori sinetron tadi.

Meskipun dicekoki begitu banyak tayangan nonedukatif dari berbagai stasiun televisi swasta, gua masih bersyukur ada MetroTV yang setidaknya masih menayangkan beberapa tayangan berkualitas (kecuali acara Agung Kapitalis Group dan Mario Teguh Bullshit Ways). Tapi seberapa banyak sih masyarakat di luar sana yang tertarik menonton acara semacam Kick Andy atau Mata Najwa? Akan sulit bagi mereka, yang terbiasa 'terhibur' dengan glamorama ibukota sebagaimana dicerminkan oleh sinetron dan infotainment, untuk menambah wawasan melalui acara-acara tersebut. Gua yakin, gak banyak masyarakat yang bisa 'terhibur' menonton tayangan edukatif karena bertahun-tahun mata dan otak mereka dimanjakan oleh ketololan yang menciptakan kecanduan dan mungkin sebagian besar dari mereka juga tidak memiliki (banyak) pilihan hiburan selain melanjutkan episode demi episode yang alurnya semakin lama semakin tidak masuk akal. Ini yang bikin gua gelisah. Sampai kapan masyarakat Indonesia dimanjakan oleh tayangan yang tidak mendidik, yang secara langsung maupun tidak, membiasakan mereka untuk meliburkan otak mereka untuk berpikir kritis dan menolak segala hal yang nonsense. Sempat gua berpikir apa mungkin degradasi kualitas tayangan televisi merupakan politik pemerintah, penguasa, dan/atau pemilik modal untuk mencegah kecerdasan bangsa.

Sudah larut, saatnya tidur dan mematikan televisi sebelum otak saya mati suri.